Sejarah Kapal KRI Bima Suci

Sejarah Kapal KRI Bima Suci

Jajaran Kapal Republik Indonesia (KRI) kedatangan anggota baru, yaitu KRI Bima Suci-945 atau yang biasa dikenal dengan nama KRI Bima Suci. Kapal ini secara resmi telah menjadi bagian dari TNI Angkatan Laut dan merupakan sebuah kapal layar latih bagi taruna atau kadet Akademi Angkatan Laut (AAL). Kapal ini secara resmi telah digunakan untuk menggantikan posisi kapal layar latih pendahulunya, yaitu KRI Dewaruci.

Baca juga : Awal Munculnya Bima Suci

Nama dari kapal ini terinspirasi dari nama muridnya Dewaruci, yaitu Bima suci. Figur dari Bima Suci ini muncul dalam wujud patung yang berada di bagian depan lambung kapal ini. Figur tersebut tampak sedang dililit oleh ular yang dikenal sebagai musuh terakhirnya Werkudara (nama lain dari Bima Suci) sebelum ketemu dengan Dewaruci. Terlihat juga kuku pancanaka yang dijadikan sebagai senjata andalannya dalam mengalahkan ular itu. Dengan memakai nama ini, maka diharapkan bagi para taruna untuk memiliki karakter seperti Bima yang mempunyai etos keilmuan yang tinggi.

Selengkapnya : Spesifikasi KRI Bima Suci

KRI Bima Suci dibangun di galangan kapal Contruccon Navales Freire Shipyard di Vigo, Spanyol barat, yang memekan waktu selama hampir dua tahun. KRI Bima Suci diresmikan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P, di dermaga tempat kapal ini dibuat, yaitu di Dermaga Freire, Vigo, Spanyol. Dalam peresmian tersebut, dilakukan rangkaian upacara kemiliteran dan membunyikan sirine sebagai tanda peresmian. Yang tidak boleh ketinggalan juga adalah dengan dikibarkannya bendera Merah Putih di atas kapal Bima Suci.

KRI Bima Suci dijadwalkan akan langsung melakukan tugas perdananya yaitu operasi penyeberangan dengan berlayar mulai dari Spanyol menuju ke Indonesia pada 18 September 2017. Pada pelayaran yang pertama ini, sekaligus melakukan pelayaran Kartika Jala Krida (KJK) 2017, bersama dengan 119 Taruna/Kadet Akademi Angkatan Laut (AAL) tingkat III Angkatan 64. KJK ini adalah pelayaran muhibah ke luar negeri, sekaligus dijadikan sebagai latihan dan praktek (Latek) bagi Taruna AAL dengan menggunakan kapal latih Taruna secara langsung. Kedatangan dari KRI Bima Suci disambut dengan meriah dan secara langsung oleh Menteri Pertahanan RI Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu yang didampingi oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P., beserta para pejabat tinggi negara di Dermaga JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Baca juga : Kelanjutan Pelayaran Bima Suci

Yang menjadi daya tarik dari penyambutan ini adalah pada saat KRI Bima Suci datang dan memasuki wilayah perairan sekitar Jakarta, pada saat yang bersamaan KRI Dewaruci sebagai generasi pendahulu dari kapal layar latih menyambut KRI Bima Suci di tengah perairan, tepatnya di sebelah tenggara Pulau Damar Kepulauan Seribu dan memgarahkannya hingga sampai menjalani proses sandar di pelabuhan. Pembuatan kapal layar latih ini memang pada dasarnya dirancang untuk meneruskan tradisi keperkasaan, ketangguhan, dan kejayaan KRI Dewaruci pada zaman dahulu yang telah mengukir banyak prestasi.

Baca juga : Sejarah Kapal

tokoraphandicraft.com

Sejarah Kapal Layar Tradisional Pinisi

Sejarah Kapal Layar Tradisional Pinisi

Kapal Pinisi / Pinisiq / Pinisi’ / Phinisi merupakan kapal layar tradisional khas Indonesia, yang berasal dari Suku Bugis serta Suku Makassar di Sulawesi Selatan yang berasal dari desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba. Pinisi sesungguhnya ialah nama layar. Kapal ini mempunyai 2 tiang layar utama serta 7 buah layar, ialah 3 di ujung depan, 2 di depan, serta 2 di balik; Digunakan secara universal buat pengangkutan benda antarpulau. 2 tiang layar utama ini bersumber pada 2 kalimat syahadat serta tujuah buah layar ialah jumlah dari surah Al- Fatihah. Pinisi merupakan kapal layar yang memakai tipe layar sekunar dengan 2 tiang dengan 7 helai layar yang serta pula mempunyai arti nenek moyang bangsa Indonesia sanggup mengharungi 7 samudera besar di dunia.

Bagi suatu tradisi setempat, nama pinisi diberikan oleh seseorang raja Tallo, I Manyingarang Desigram Makkilo, kepada perahunya. Namanya berasal dari 2 kata, ialah” picuru”( maksudnya” contoh yang baik”), serta” binisi”( sejenis ikan kecil, lincah serta tangguh di permukaan air serta tidak terbawa- bawa oleh arus serta ombak). Sumber lain melaporkan kalau nama pinisi berasal dari kata panisi( kata Bugis, berarti” sisip”), ataupun mappanisi( menyisipkan), yang mengacu pada proses mendempul. Sebab lopi dipanisi berarti perahu yang disisip/ didempul, sudah dianjurkan kalau kata panisi hadapi pergantian fonemis jadi pinisi. Nama itu pula bisa jadi berasal dari pinasse, kata Jerman serta Perancis yang mencirikan kapal layar dimensi lagi( bukan kata Inggris pinnace yang pada waktu itu mencirikan sejenis sekoci dayung serta bukan suatu perahu layar).  Kata ini diserap jadi pinas ataupun penis oleh orang Melayu sehabis tahun 1846.

Selengkapnya : Sejarah Pinisi

Suatu kapal bersistem layar pinisi mempunyai 7 sampai 8 layar pada 2 tiang, diatur dengan metode yang mirip dengan sekunar- keci: diucap sekunar sebab seluruh layarnya merupakan layar depan- belakang, berbaris di sejauh garis tengah dari lambung pada 2 tiang; serta diucap keci, sebab tiang di buritan kapal agak lebih pendek daripada yang terdapat di haluan.

Layar agung besar wujudnya berbeda dari sistem layar gap style barat, sebab mereka kerap tidak mempunyai bom serta layarnya tidak diturunkan dengan gap. Kebalikannya layar itu digulung mengarah mengarah tiang, semacam gorden, sehingga membolehkan gapnya buat digunakan bagaikan derek geladak di pelabuhan. Bagian dasar tiang itu sendiri bisa jadi menyamai tripod ataupun dibuat dari 2 tiang (bipod).

Kapal bersistem layar pinisi( palari) mempunyai panjang dekat 50- 70 kaki( 15, 24- 21, 34 meter), dengan garis air dikala muatan ringan 34- 43 kaki( 10, 36- 13, 1 meter).[8]: 112–113 Palari yang kecil cuma sejauh dekat 10 m. Pada 2011 suatu PLM bersistem layar pinisi besar sudah dituntaskan di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dia mempunyai panjang 50 meter serta lebarnya 9 meter, dengan tonase kotor dekat 500 ton.

Di masa globalisasi phinisi bagaikan kapal benda berganti guna jadi kapal pesiar elegan komersial ataupun ekspedisi yang dibiayai oleh investor lokal serta luar negara, dengan bidang dalamnya elegan serta dilengkapi dengan perlengkapan menyelam, game air buat wisata bahari serta awak yang terlatih serta diperkuat dengan metode modern. Salah satu contoh kapal pesiar elegan terkini merupakan Silolona berlayar di dasar bendara.

Semacam banyak tipe kapal tradisional yang lain, pinisi sudah dilengkapi dengan motor, sebagian besar semenjak tahun 1970. Ini sudah mengganti penampilan kapal itu. Sebanding dengan dhow modern, tiang- tiangnya sudah diperpendek, ataupun dihilangkan kala crane geladak sirna seluruhnya, sedangkan struktur di geladak, umumnya balik, sudah diperbesar buat awak serta penumpang. Pada dini 1970- an, ribuan kapal pinisi- palari berdimensi sampai 200 ton kargo, armada kapal berlayar komersial terbanyak di dunia pada dikala itu, sudah menghubungi seluruh penjuru Samudra Hindia serta jadi tulang punggung perdagangan rakyat.

Baca juga : Sejarah Kapal Dewaruci

Pinisi dimodifikasi jadi kapal pembawa penyelam oleh investor asing buat tujuan pariwisata. Salah satu contohnya merupakan kalau perahu tersebut digunakan bagaikan pitstop buat The Amazing Race. Kapal pinisi pula jadi lambang buat gerakan WWF ialah#SOSharks, program pelestarian ikan hiu dari WWF, serta sempat digunakan oleh industri populer di Indonesia ialah Bank BNI.

Baca juga : Sejarah Kapal

tokoraphandicraft.com

Sejarah Kapal Latih KRI Dewaruci

Sejarah Kapal Latih KRI Dewaruci

Kapal Republik Indonesia (KRI) Dewaruci merupakan sebuah kapal latih tiang tinggi legendaris yang ada di negara ini yang digunakan oleh taruna atau kadet Akademi Angkatan Laut (AAL). Kapal ini dihadirkan untuk melahirkan perwira & pelaut Indonesia yang tangguh. Para taruna / kadet AL Indonesia dilatih untuk mengarungi lautan lepas bersama KRI Dewaruci. Pelayarannya juga tidak selalu mulus & seperti yang diharapkan, kadang mereka akan menghadapi ganasnya lautan seperti dengan adanya badai yang dapat terjadi kapanpun. Dari pengalaman tersebut, maka akan lahir pelaut – pelaut yang berkarakter, tangguh, & dapat diandalkan.

Nama dari kapal ini diambil dari nama dewa yang ada dalam kisah klasik pewayangan Jawa yaitu Dewa Ruci. Dengan penggunaan nama ini di kapalnya, maka diharapkan bagi para pelaut yang lahir dari kapal latih tiang tinggi ini akan menemukan jati dirinya, sebagaimana seorang Bima yang menemukan makna kehidupan yang sebenarnya dalam diri Dewaruci. Yang akan membuat mereka menjadi berkarakter, cakap, dan tangguh dalam menjaga wilayah perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca juga : Kisah Bima bertemu Dewaruci

Kapal ini dibangun di galangan kapal milik Heinrich Christoph Stülcken, yaitu H.C. Stülcken & Sohn, Hamburg, Jerman Barat. Kapal dari hasil rancangan Adrian Braun ini sebenarnya telah dibangun sejak tahun 1932, akan tetapi harus berhenti di tengah jalan karena terjadi Perang Dunia Kedua di Eropa pada tahun 1939 – 1945. Karena kapal bertipe Barquentine ini mau dijadikan sebagai kapal latih, maka akan memerlukan beberapa perubahan sehingga nantinya akan mampu untuk berlayar pada kemiringan 45o. Setelah kapalnya sudah rampung, dilakukan lah serangkaian pelayaran uji coba di sekitar Laut Utara sampai ke Semenanjung Skandinavia, hal ini dilakukan sampai dinyatakan untuk layak berlayar.

Pada tanggal 24 Januari 1953, KRI Dewaruci disebrangkan secara langsung dari Jerman Barat ke Indonesia dengan disertai oleh para kadet dari Institut Angkatan Lut (IAL), yang sebelumnya diterbangkan dari Indonesia ke Jerman Barat. Pada tanggal 2 Oktober 1953, kapal layar tiang tinggi ini diserahkan secara resmi kepada ALRI. Pihak Jerman Barat diwakili oleh OTTO von Hottendorf dan ALRI diwakili oleh Asisten Personel KSAL (Aspers KSAL) Mayor Pelaut Imam Sutopo pada saat upacara serah terima. Selanjutnya, kapal ini diberi nama RI Dewa Rutji dan masuk kedalam Satuan Kapal Bantu berdasarkan pada Surat Keputusan Menteri Pertahanan RI Nomor MP/H1254 tanggal 11 Januari 1954.

Sejak memperkuat jajaran TNI AL pada tahun 1953, KRI Dewaruci telah dua kali melaksanakan pelayaran muhibah keliling dunia yaitu tahun 1964 dan 2012. Setelah 11 tahun sejak peluncurannya, KRI Dewaruci berhasil menjalankan misi keliling dunia untuk pertama kalinya dengan menyusuri Samudera Hindia, Samudera Atlantik, Benua Amerika, Terusan Zues, Terusan Panama, hingga Samudera Pasifik.

Selengkapnya di : Awal Mula Kisah Dewaruci

Hingga pada tahun 2013, KRI Dewaruci telah berhasil untuk menjalankan misi mengarungi lautan dunia hingga 41 kali dan dipimpin oleh 45 Komandan Kapal yang berbeda – beda. Tujuan dari pelayarannya juga sangatlah beragam. Kini, setelah mengabdi selama lebih dari 60 tahun kapal ini sudah dipurna tugaskan. Kemudian dialihfungsikan sebagai sarana objek wisata sejarah maritim di Indonesia. Kapal ini nantinya akan lebih banyak bersandar, sementara misi penjelajahan lautan ini nantinya akan diteruskan oleh pengganti dari kapal latih ini yaitu KRI Bimasuci.

Baca Juga : Sejarah Kapal

tokoraphandicraft.com